Senin, 17 September 2012

#WritingClass - UGD dan Fragmen Memori

No comments    
categories: 
Gambar dari : http://www.1001malam.com/hotel/912/banjarmasin/amaris-banjar-hotel.html


“Jantung Desna kambuh,” ucap Satria tenang. Ada emosi tertahan disitu. “Ditambah tipes yang belum begitu pulih. Makanya langsung dilarikan ke UGD,” sambungnya di ujung telepon.

Dua puluh tiga menit kemudian, aku menjejakkan kakiku cepat menyusuri koridor rumah sakit yang terang benderang. Aroma alkohol menguar menggelitik hidungku. Seketika mataku yang masih sembab memanas seiring denyutan di pelipis.

Anggrek 201, lafalku dalam hati. Berarti ruangan Desna berada, hanya selisih belokan koridor di ujung sana. Aku setengah berlari meraihnya.

***

Tiga belas tahun silam
“Des, udah liat video klip Blue yang baru? Ya ampun, Lee Ryan ganteng abis!” Gadis berkepang dua ini hanya memutar bola matanya dan mencomot pisang goreng.

Saat itu, kami berada di warung samping sekolah. Tempat yang mirip warung ini, biasa dijuluki “Kafe Bu Surti” agar kesannya keren. Yang membedakan warung kebanyakan dengan kafe ini, hanyalah kursi-kursi yang diletakkan di tengah—serupa kafe.

“Duncan James lebih ganteng, lebih macho gitu. Apalagi rambutnya kayak habis dipotong,” sahut Desna bersemangat. Aku tersenyum sumringah mengingat betapa kerennya video klip If You Come Back To Me dari Blue itu.

“Gimana tuh, liriknya?” Tanyaku sambil melirik catatan kecil berwarna biru yang dipegang Desna. Sedetik kemudian, kami sudah asyik bersenandung.

And I swear, if you come back in my life. I’ll be there till the end of time. Aku menyanyikan reff lagu tersebut. Desna terdiam di bagian ini.

Back to me, back to me, back to my life. Desna menyanyikan canon lagu tersebut sambil tersenyum. Aku mengetahui maksudnya. Hari itu kami habiskan dengan menyanyi lagu boyband beranggotakan lima orang ini, semirip mungkin dengan versi aslinya.

***

Rasanya baru kemarin. Desna yang saat itu satu selera musik denganku, langsung mengikrarkan diri menjadi BFF (Best Friends Forever). Mencari orang dengan selera musik yang sama saat teman-teman SD-mu tidak mengenal MTV, memang sulit.

Persahabatan kami baik-baik saja sampai selepas lulus kuliah. Desna bekerja di bidang teknik kimia, aku ke dunia modelling. Jadwal yang tak menentu membuat kami hampir tak bertemu. Betapa buruknya aku sebagai sahabat. BFF? Cih, tahu Desna masuk UGD saja dari kekasihnya.

...to ever end. No no no

Aku berhenti. Nadanya familiar. Siapa yang menyalakan musik di UGD? Rutukku dalam hati. Ini...ini kan lagu If You Come Back To Me-nya Blue! Sedetik kemudian ingatan akan Desna membanjir.

I swear, if you come back in my life. I’ll be there till the end of time. Senandungku dalam hati dengan berurai air mata. Hatiku meringis menantikan lirik berikutnya datang. Ayo Desna, sambung kalimatnya. Itu kan bagianmu.

Back to me , back to me, back to my life. Aku harus kecewa mendengar sambungan lirik tersebut. Tak ada Desna yang menyanyikannya untukku. Badanku seketika limbung dan terjatuh di lantai koridor. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Girni! Kamu baik-baik aja kan? Ruangan Desna di ujung sana. Ayo, sebentar lagi dokternya keluar.” Satria kaget menemukanku tersungkur di koridor. Seraya terisak, aku menyambut uluran tangannya dan berharap dokter memberi kami kabar paling baik.



-- hit me on @dinikopi

0 respon:

Posting Komentar

Itu sih kata @dinikopi, menurut kamu?