Sabtu, 28 Oktober 2017

Review Gemes W - Two World Dari Penonton Newbie

No comments    
categories: 
Semua berawal dari keranjingan saya membaca LINE Webtoon. Pertama saya tahu ada aplikasi gratis yang menyediakan ribuan komik, dari adek bungsu saya. Singkat cerita, saya jadi ketagihan scroll komik di Webtoon sampai menghadiri acara Fan Signing LINE Webtoon bersama adik saya ini. Saya pikir, kegilaan saya akan Webtoon, mungkin mencapai klimaks di sana.

Ternyata ini baru permulaan saja.

Abis dari acara itu, adek bungsu saya menjerumuskan saya untuk nonton drama Korea yang berjudul W-Two World dengan iming-iming "tonton deh kak, nanti bakal tau kehidupan dan alur flow membuat komik di Webtoon". Saya langsung dengan tegas bilang "gak nonton drama Korea karena takut keterusan". Karena dalam hati saya, tau kalo bakal ada beberapa judul yang bikin saya ketagihan, and I am not ready for this


Tapi, setelah sampai ke rumah, saya harus menjilat ludah daya sendiri karena saya langsung download 16 episode drama korea W-Two World beserta2 special episodenya. My evil side won!

Sekitar semingguan, saya nonton drama ini, dan literally can not get off those scenes out of my head. Saya terus-terusan mendalami dan mengulang adegan dari drama itu. Terhanyut suka sama pemeran utamanya dan mengagumi ceritanya. Yeah, I'm sold.

Kenapa drama ini bikin saya kepikiran terus? Ada buanyaaaak banget alasan yang bisa bikin saya ngoceh panjang lebar. So here they are!

1. Bagian "Bersambung"
Udah jadi rahasia umum kalo biar dramanya bersambung, harus ada perubahan emosi pada karakter utama. Tapi, karena ini drama tentang dua dunia, jadi untuk mengakhiri drama ini, dibutuhkan setidaknya 2 kali perubahan emosi, yaitu dari karakter utama Webtoon (yaitu Kang Chul) dan yang penting adalah perubahan emosi dari karakter utama drama ini, yaitu Yeon Joo.
Berkali-kali saya nebak bagian Bersambung dari drama ini, dan ternyata meleset. Terlalu banyak twist yang bikin tebakan saya salah. Ini menurut saya jenius banget sih. Tim penulis cerita harus ngebedah ceritanya sedemikian rupa untuk memutuskan kapan harus mengakhiri Webtoon dan kapan harus mengakhiri episode drama

2. Manajemen Konflik
Yang saya tahu dalam membangun cerita, biasanya, ada satu konflik besar yang jadi puncak permasalahan. Tapi kan dalam sebuah cerita nggak bisa ujug-ujug ada konflik besar. Kenapa? Karena kita belum diperkenalkan kepribadian karakter utama, belum paham seberapa penting si karakter utama perlu melalui konflik ini. Makanya, penulis biasa membagi konflik besar ini ke beberapa konflik kecil. Ketika konflik kecil dimunculkan, akan kebangun tensi cerita yang makin seru hingga konflik puncak datang.

Untuk menyelesaikan konflik puncak, si karakter utama harus melakukan sesuatu seperti mengubah pandangannya tentang masalah (seperti memaafkan pelaku atau sadar kalo dirinya salah) atau membereskan masalah dalam bentuk action (membunuh pelaku atau putus sama pacarnya). Lalu, sehabis penyelesaian masalah, selesailah cerita tersebut dengan bentuk perubahan fisik atau emotional beberapa karakter yang terlibat

TAPI TERNYATA TEORI ITU GAK BERLAKU DI DRAMA INI!
Stress banget ngeliat berbagai twist yang gak terduga. Oke coba kita bedah yah

Apa sih konflik utamanya? Karena ada dua karakter utama, jadi konflik puncaknya ada dua. Yaitu menyelesaikan urusan dengan pembunuh keluarga Kang Chul dan bagaimana agar Kang Chul - Yeon Joo bisa hidup berdua dengan akhir yang bahagia (tidak terpisahkan dan nggak ada yang mati)

Konflik kecil untuk membangun tensi ini pun berdatangan. Misal untuk Kang Chul, konflik kecilnya yaitu masuk penjara, difitnah membunuh keluarganya, dan ditusuk pembunuh di atap. Konflik kecil untuk Yeon Joo adalah cemburu sama Soo Hee, Kang Chul jadi amnesia, sama ada adegan di mana dia nggak bisa keluar dari dunia Webtoon. I wish, this could be easy and clear enough to build the solution.

Tapi di sini lah letak kekampretan drama W - Two World yang bikin saya gemes banget. Alih-alih membantu karakter utama menyelesaikan masalah, justru masalah baru terus berdatangan hingga episode terakhir. Ya bayangin aja, di 30 menit episode terakhir aja masih ada konflik yang belum selesai. Ini fix bikin blingsatan dan buat penonton ga bisa move on sampai detik terakhir

Di episode 8 kalo ga salah, Kang Chul mencetuskan solusi untuk menyelesaikan masalah, yaitu Yeon Joo harus buat Kang Chul bermimpi dan lupa sama Yeon Joo agar istrinya ini selamat. Dalam hati penonton, pasti langsung menjerit, penyelesaian konflik seperti apa ini. Oke lah ya, coba kita pantengin dulu, moga masalahnya selesai. EEHH tau-taunya masalah bukan selesai malah makin besar. Kan kampret banget penulisnya :))

3. Penguatan Karakter
Saya sempet denger dari siapa gitu, katanya untuk membuat karakter yang kuat, penulis harus tega sama karakternya. Jangan cuma kasih satu atau dua masalah aja. Harus dikasih konflik yang bertubi-tubi. Ibarat pepatah, habis jatuh, tertimpa tangga, keguyur air, maskaranya luntur, diketawain gebetan yang lewat, eh dikerubungin kecoa pula. Ini namanya ultra tega sama karakternya. Pokoknya bikin si karakter kayak udah mau mati atau sampe trauma. Baru karakter akan kuat dan jadi pribadi yang bisa diidolakan banyak orang.

This also applies to this drama. Tapi sumpah ya, konfliknya itu gak terduga dan bikin saya makin kasian sama karakternya. Gemes lah, si Yeon Joo kan bisa "mengubah cerita" jadi happy ending dengan sekejap sebenernya cuma dengan kunci digambar aja. Tapi, si penulis cerita yang sebenernya nggak akan kasih kemewahan seperti itu. "Kekuasaan" Yeon Joo untuk mengubah cerita dicabut dan bikin karakternya mati kutu dengan konflik yang "lah maksud gue gak gini pengennya loh tapi kenapa kok jadi gini sih akhirnya aswqjlzzzzz"

Hasilnya? Saya akui, di drama ini karakter utama jadi punya berlapis emosi. Gak ada emosi basic kayak seneng akhirnya lepas dari penjara atau sedih karena simply ditinggal. Emosi yang dibentuk dan action yang dihasilkan pun akhirnya jadi berlapis. Lebih manusiawi menurut saya, karena kita sebagai penonton sama-sama tau ini cuma di Webtoon tapi terjadi juga di dunia nyata. Semakin kuat, kompleks, dan nyata emosi yang dihasilkan, menurut gue penulis udah berhasil menegaskan karakter tersebut.

4. Terkesan Nyata
Ini adalah salah satu elemen yang saya paling suka. Apa bedanya W - Two World sama film-film yang lain? Menurut saya, di drama ini sangat nyata dan manusiawi banget. Pertama nonton film kita bisa aja berkomentar "oh ini mah kan cuma terjadi di Webtoon aja". Tapi semakin kita nonton, semakin kita meyakini kalo karakter yang ada di drama ini sangat sangat terkesan nyata. Saya melihat Kang Chul bukan lagi karakter Webtoon, pertama karena dia udah bolak balik dunia nyata, kedua karena kami sang penonton "dipaksa" memanusiakan Kang Chul sebagai manusia nyata yang punya kehendak untuk hidup normal.

Mind blowing banget *mata berbinar*

5. Pemilihan Pemeran Inti
Ini kan drama soal Webtoon, jadi saya suka banget yang dipilih untuk memerankan drama ini, emang cartoon-able mukanya. Liat aja Kang Chul yang pipinya super mulus, cocok banget jadi pemeran utama. Atau Soo Hee yang cantiknya nggak santai, like too good to be true buat ada di dunia nyata. Pemilihan aktris Yeon Joo juga pas. Terlihat biasa aja, make up ala dunia nyata, dan terlihat berbeda di dunia Webtoon, like she doesn't belong there, ya iyalah dia kan bukan pemeran asli Webtoon.

Saya nggak tau ini emang dipersiapkan matang-matang dari casting, atau emang tim makeupnya yang jago. Yang pasti, I can appreciate the casts!

6. We all could be Yeon Joo
Kenapa cerita cewek biasa ketemu cowok super ganteng bisa populer? Liat aja Twilight atau Fifty Shades of Grey, menurut saya cerita mereka hampir sama. Pemeran utama dibuat semainstream mungkin, agar kita semua bisa membayangkan diri kita menjadi karakter utama perempuan. Yeon Joo, Bella, dan Anastasia karakternya mirip kan? Cuma perempuan biasa yang istilahnya "nggak istimewa amat", menjalani kehidupan super normal, lalu kayak ada keajaiban atau dia dipertemukan dengan karakter cowok yang jauh lebih superior.

Kita semua bisa jadi Yeon Joo (W-Two World), Bella (Twilight), dan Anastasia (Fifty Shades of Grey). Gak peduli seberapa sukses kita sekarang, pernah ada masanya di mana kita awkward, ceroboh, mudah linglung, dan merasa lemah. Semakin "kosong" cangkang inti dari pemeran utama perempuan, semakin penonton bisa relate dengan ceritanya.

Memang ada tempat untuk perempuan-perempuan yang terlihat "kuat dari sananya" kayak Soo Hee atau Wonder Woman. Tapi, jujur aja deh, sejak awal kita nggak bisa relate dengan masalah yang pemeran utama alami. Peran "perempuan kuat dari sananya" cuma bikin kita merasa kagum aja sama aksi mereka, tapi gak bisa bikin kita ikutan sedih dan larut dalam plot cerita.

7. Ending Cerita
Bisa dibilang, para pemeran utama tiga kali membahas serius tentang bagaimana cara mengakhiri cerita ini dengan akhir yang bahagia. Tapi nyatanya, ketiga usaha tersebut gak ada yang bekerja alias gagal total diporak-porandakan berbagai twist yang bahkan ada di menit-menit terakhir drama. Sungguh sangat menguras hati pemirsa :'(

Banyak yang bilang nggak suka sama endingnya. Tapi menurut saya, endingnya sangat logis dan manusiawi sekali. Persis seperti gaya Webtoon ini dari awal, so unreal yet you can feel it real in your heart.

Seperti yang udah dibahas di atas, konflik puncaknya ada dua karena ada dua pemeran utama. Konflik Kang Chul adalah menyelesaikan urusan dengan pembunuh keluarganya dan konflik Yeon Joo adalah bagaimana agar mereka bisa hidup berdua dengan akhir yang bahagia (tidak terpisahkan dan nggak ada yang mati)

Jadi, kalo endingnya Kang Chul mati, udah pasti bukan ending karena konflik pemeran utama perempuan nggak terselesaikan. Salah juga kalo dibuat ending di mana Kang Chul selamanya menghentikan dunia Webtoon dan jadi manusia nyata selamanya, karena konflik dia dengan si pembunuh belum selesai. Jadi variabel ending seperti apa pun yang gak memenuhi penyelesaian kedua konflik tersebut, gagal disebut ending.

Nah, karena sebelumnya saya belum paham konsep ini, jadilah saya dipermainkan penulis cerita. Saya pikir, ah udah nih berhasil endingnya, udahlah mereka udah bahagia dong. Lalu datanglah adegananti klimaks di mana penulis cerita "menipu" kita menggambarkan Kang Chul - Yeon Joo udah hidup bahagia dalam 30 menit episode. Eh di 30 menit berikutnya, mereka disiksa lagi. AH KAN PENONTON JADI EMOSIK :))))

Saya suka sama endingnya kok. Menurut saya sangat pas dan sangat menjelaskan plot dengan apik. Penonton pun sukses dibuat emosi serta ga bisa move on sama drama ini.

8. Adegan Favorit
Ini dia aneka adegan favorit saya


Kenapa suka? Ya suka lah, ciumannya passionate sekali. Dan ini pertama kalinya mereka bisa saling mengetahui kalo they meant to be each other.


Yak di adegan ini, nangis pertama dalam sejarah menonton W - Two World. Sedih banget :(((


Udah kelar sedihnya? Oh tentu saja belum, di episode selanjutnya saya nangis kejer gara-gara adegan ini T.T


Duh kalo gue jadi Yeon Joo, udah gak kuat di adegan ini pengen menghilang sajaaaa saking sedihnya


Ini memorable banget sih. Titik balik dari konflik episode-episode terakhir yang makin menyayat hati penonton.


Bonus deh, ini kocak bangeeet :))

9. Fashion Fashion Fashion
Sumpah ya gue naksir banget sama semua bajunya Kang Chul! Lebih suka sama baju dia daripada bajunya Yeon Joo. Lebih menegaskan karakter banget dan super fashionable!



Gemas! Ada gak ya yang jual outfit cowok ala Korea di Indonesia? Masa harus ke sana langsung sih? :3

--------
Intinya, saya masih hanyut sama drama korea W-Two World. Bagus banget buat pembelajaran para penulis cerita untuk contoh bagaimana membangun cerita dan ending yang kuat. Jadi abis ini mau nonton drama Korea apa lagi? GAAAK, MAKASIH YA. Tapi saya gak mau nonton drama korea lagi deh *moga bukan cuma di mulut doang* :))

Salam mata genitnya Kang Chul! ;)

-- hit me on @dinikopi

Kamis, 21 September 2017

Pindah Lagi ke Matraman

1 comment    
categories: 
Tahun 2017 ini banyak banget hal yang bikin dunia saya jungkir balik. Setelah menikah rasanya ada banyak banget hal yang berubah, salah satunya tempat tinggal dan.... jabatan. Udah setengah tahun ini, saya pindah ke Matraman dan ganti kartu nama jadi Head of Digital Strategist.

Pertama kali ditawari, saya masih jadi freelance Socmed Officer di digital agency tersebut, terus karena belum ada yang menempati posisi Head, saya ditawari untuk kerja fulltime di sana. Bayangin aja udah lama freelance, eh ditawarin untuk kembali fulltime. Rasanya galau. Apalagi udah nikah dan waktu itu saya dan suami emang udah punya management time sebagai freelance. Emang sih, suami udah kerja di MRT Jakarta. Tapi nggak masuk 5 hari dalam seminggu, dan waktu kerjanya fleksibel banget bagaikan freelancers.

Tapi, saya inget banget kata nyokap mengenai kegalauan ini: Salah satu yang disayangkan dari banyaknya pasangan muda setelah nikah adalah, sang istri resign dari kantornya. Menurut nyokap, justru saat-saat nikah adalah saatnya "berjuang mati-matian" sama suami untuk ngumpulin duit. Buat apa? Buat segera beli mobil, beli rumah, isi perabotan rumah, dan persiapan finansial punya anak. Saat muda harusnya diisi dengan kerja kerja dan kerja, bukannya malah resign dan liburan sana sini.

Jleb.

Tapi yaah, ini kan kata nyokap saya, yang pengen terbaik buat anaknya aja berdasarkan pengalamannya. Saran nyokap saya bisa aja nggak relate dan nggak cocok buat kehidupan after married kamu. Jadi, emang tiap orang akan memilihi jalan hidup yang beda-beda dooong. Nggak ada yang bener atau salah. As long as kamu happy, semua bakal baik-baik aja

Tapiii, buat saya saran nyokap ini bener-bener jleb. Karena kemarin pas abis nikah duh pengennya di rumah aja berdua sama suami, liburan sana sini, eksplor jadi istri yang baik dengan cara belajar masak, nyuci, dan beresin baju suami. Kayaknya enak banget hidup kayak gitu. Di sisi lain, emang bener ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi segera. Dan cara memenuhinya adalah dengan sang suami dan istri sama-sama bekerja.

Apalagi saya orangnya itu nggak bisa banget diem. Kalo udah mencapai satu level yang nyaman, pasti pengennya cepet-cepet nyobain hal yang baru biar segera naik level. Pokoknya selalu mikir "abis ini gue mau ngapain ya", dan cepat puas sama keadaan nyaman.

Okay, lanjuuut....

Waktu itu keadaannya saya masih di rumah kos sama suami. Setelah nikah, saya emang langsung ikut suami ke kosannya. Yah biarpun kecil, asal ga numpang di mana-mana lah gitu. Kosannya juga bukan ala kosan bujangan. Tapi udah lengkap ada dapur, kamar mandi dalem, tempat jemur, tempat cuci piring sendiri, kulkas, galon, wifi gratis, bahkan ada rooftop, ihiy!

Tapiii, seakan alam semesta bersekongkol di pertengahan 2017. Saya ditawari jabatan head, dan tiba-tiba ada rumah kontrakan kosong yang bisa saya tempati di daerah Matraman. Ini semacam ultra rejeki kalo kata komik Webtoon :))

Fun factnya adalah, dulu saya dan suami emang nyari banget kontrakan di sekitar Matraman. Tapi nggak pernah dapet yang cocok. Karena ternyata Matraman adalah kawasan yang terlalu padet dan belum ada rumah yang bikin kami tertarik. Padahal pengen banget tinggal di Matraman karena lebih deket ke mana-mana, akses makanan banyak, dan deket ke Gramedia Matraman (lots of booookssss). Tapi, di pertengahan 2017 ini malah dapet rumah yang oke di Matraman dengan harga yang lebih murah.

Jadilah pindah ke rumah kontrakan yang baru dengan hati senang. Karena kemarin pas di kosan, rasanya sumpek banget walaupun kosannya baguuus. Yah bayangin aja barang saya yang banyak (baca: buku buku buku dan buku) ditambah sama barang suami yang juga bejibun. Nggak muat di kosan yang kecil. Mau tidur pun rasanya musti "perang lahan" dulu sama suami. And I want my own kitchen! Jadi pindah adalah solusi yang melegakan semua pihak

Gambar dari sini
Rasanya waktu pas pertama pindah, kayak berhasil naik ke satu level lebih tinggi. Udah nikah, punya jabatan tetap dan fasilitas kantor, ditambah pindah ke rumah kontrakan yang lebih luas. Duh, udah lengkap sekali berumah tangga (aposeeee).

Walaupun ini tahun pertama nikah, tapi saya pengen banget langsung nabung buat punya rumah di Tangerang atau BSD. Punya rumah yang ada halaman belakangnya buat ngopi-ngopi. I think it's an okay situation di mana saya kerja fulltime dengan gaji tetap, suami juga udah enak di kantornya. Yah, ini saatnya untuk belajar masak, nabung, dan segera punya rumah sendiri. Aamiinnnn

Soal gimana kehidupan jadi Head of Digital Strategist bakal saya tulis ya di blogpost selanjutnya. Bye dulu, takut ikannya gosong~

*dini yang nulis sambil goreng ikan

-- hit me on @dinikopi

Senin, 18 September 2017

You Are Awesome, 2016!

No comments    
categories: 
Salah satu prinsip yang saya pegang dalam hidup adalah, make every single time counted. Pengennya sih setiap tahun selalu berubah dan mencapai hal yang lebih baik dari tahun sebelumnya. To make the memory alives, saya jadi pengen ngerekap (deuh bahasanya rekap, udah kayak lemburan) apa yang terjadi di hidup saya pada tahun 2016 ini

Gambar dari sini

1. Menikah
Kayaknya salah satu perubahan paling besar di tahun 2016 ini disebabkan karena saya menikah. Tahun 2016 diisi dengan mempersiapkan pernikahan di Januari 2016, sampai menikah di bulan Juli 2016. Begitu udah sah, langsung tinggal berdua doang sama suami di rumah kos sendiri. Pertama kalinya dalam hidup, saya bakal hidup lebih dari 24 jam sama orang yang sama, berhari-hari, berminggu-minggu, sampai bertahun-tahun.

Apa aja yang berubah setelah nikah? Banyak lah. Kayak pindah domisili dari Bekasi jadi di Jakarta, yang berarti lebih deket ke mana-mana dan "ga tua" di jalan. Sekarang ngurus apa-apa sendiri dan harus ngurus suami juga. Jadi tau deh gimana repot-tapi-seneng jadi seorang istri, mulai dari hal kecil kayak peka bikinin kopi buat suami walau lagi mager, harus lebih rapi dan rajin ngurus rumah, jadi lebih sering ngobrol sama nyokap soal hal kecil semisal gimana cara pilih freezer yang minim bunga es. Pokoknya, menikah bikin saya sedikit demi sedikit lebih mandiri dan disiplin. Harus, karena kalo ga dimulai dari istri, ga akan jadi kebiasaan seisi rumah. Perubahan domestik di rumah kan dimulai dari istrinya muehehehe

2. Belajar Memasak
Dulu tuh saya sering banget diusir dari dapur karena pertama ga bisa masak, alasan kedua karena lebih pilih cuci piring sama nyapu aja, ketiga kalo udah diajarin masak suka baper, keempat emang karena belum minat sama masak. Mendingan bersih-bersih rumah aja deh, daripada di dapur. Tapi kan gak bisa gitu kalo udah nikah :))

Kata nyokap, perempuan itu ga harus jago masak, yang penting bisa masak aja udah oke.Jadilah saya nyoba masak sedikit-sedikit. Pertama sih, masak kalo lagi pede aja. Tapi pas Desember 2016 kemarin, suami saya sakit lambung yang mengharuskan dia makan masakan yang kebersihannya terjaga. Jadi, saya mau ga mau harus masak tiap hari biar sakitnya nggak tambah parah. Setiap hari harus masak sayur dan lauk, ngurangin jajan di luar karena takut kambuh lagi penyakitnya. Dan voila, sampai sekarang saya jadi masak hampir setiap hari. Beberapa kali doang libur masaknya kalo lagi banyak agenda ke luar.

Karena masih pemula dan amatir, saya masak yang simple dan aman dulu. Kayak aneka sayur bening dan tumisan.  Kalo masakan yang pake santan, saya baru berani pakai bumbu jadi. Tapi di awal tahun 2017 ini, mau belajar masak yang aneh-aneh dengan bumbu racikan sendiri. Doain moga jam terbangnya makin banyak jadi masakannya makin enak. Yah, setidaknya enak di lidah suami aja udah alhamdulillah.

Masak sih tiap hari, tapi karena presentasi masaknya belum terlalu menggugah, jadinya ga banyak diupload ke social media. Jadilah saya sering dicap istri malas masak dan hobi jajan lantaran lebih sering fotoin jajanan daripada masakan sendiri. Yah gimana yah, abisnya kalo abis masak juga langsung laper jadi lebih kepengen dimakan daripada difoto. Mungkin nanti lah belajar fotografi flatlay biar pede foto masakan sendiri buahahaha :))

3. Gajian, Makan Apa?
Abis jajan, biasanya foto makanannya sering saya post di socmed, makanya dicap istri malas masak. Padahal mah....... *lah baper

Akhirnya karena saya punya banyaaaak banget foto jajanan, saya memutuskan untuk bikin Instagram @gajianmakanapa khusus untuk feed makanan. Inspirasinya datang setiap abis gajian yang bingung mau makan apa, padahal pas lagi tiris mah mau ini itu yang segudang. Jadi saya kepikiran, mungkin ada orang yang kayak gini juga. So, dibikinlah akun Instagram @gajianmakanapa sebagai feed inspirasi atau contekan mau makan apa sehabis gajian.

Belum terlalu banyak fotonya, masih perlu belajar terus soal fotografi makanan. Yang terpenting, harus beli gear mumpuni biar foto makanannya makin cakeup sih ya. Doakan semoga di tahun 2017 ini ada budgetnya yaa :D

4. Karir Yang Penuh Kejutan
Tahun 2016 ini tuh isinya surprise semua deh. Awal tahun 2016, saya masih freelance di salah satu digital agency di Jakarta Pusat. Betah banget di situ karena anaknya baik-baik, proyeknya oke, dan saya udah setahun kerja di sana. Lalu secara tak terduga, rekan kerja saya satu per satu resign, perubahan tim, dan brand baru yang demanding, sampai akhirnya sebelum menikah saya memutuskan resign dari digital agency itu karena udah ga kepegang akibat persiapan nikah. Life surprises me.

Lalu saya mencari kantor baru lagi, bukan hal yang mudah karena kenyamanan itu kan urusan hati yah, sama kayak nyari jodoh. Saya sempat di digital agency besar hanya untuk beberapa bulan, lalu resign karena perbedaan persepsi. Sampai akhirnya saya "menetap" di agency yang namanya belum kedengeran, tapi proyeknya besar-besar, gaji oke serta gak pernah telat, lingkungan yahud, orangnya baik-baik, dan menghargai keterlibatan setiap karyawan. Tetep, judulnya sih freelance, tapi sampai sekarang saya hampir setengah tahun kerja di sana dengan nyaman. Life surprises me.

Di tahun 2016 ini juga, saya pernah hampir pingsan mengurusi 7 brand di digital sambil mempersiapkan nikah. Saya ingat betul, masa-masa persiapan nikah saya malah kerepotan melunasi deadline, tidur dijatah, dan hidup hanya dari sokongan "adrenalin". Itu parah banget rasanya, banyak pemasukan sih tapi badan remuk. Saya cuma mau liburan waktu itu :))

Ups and downs banget deh karir di tahun 2016. Life surprises me in many ways!

5. Pelesir Bareng Suami
Tahun 2015 saya nggak liburan sama sekali karena kebanyakan kerja. Pernah sih rencana liburan ke Malang, tapi gagal dan harus gigit jari sepanjang tahun lantaran lebih banyak waktu buat kerja daripada buat plesir. Boro-boro jalan, bisa tidur aja udah untung, begitu kira-kira.

Nah beruntungnya, ternyata emang jatah liburan "numpuk" di tahun 2016, ihiy! Bayangin aja deh udah lama gak liburan, eh tiba-tiba langsung honeymoon bareng suami ke Bali. It was really special karena kami berdua belum pernah menginjakkan kaki ke Bali sebelumnya. Beneran deh, kalo orang mah bolak balik ke Bali, kami mah pas honeymoon itu lah ke Bali hihihihi. Jadi semuanya serba pertama dan apa-apa nyasar bareng. Makanya mengandalkan Google banget untuk review dan direksi.

Gak lama setelah honeymoon, malah diajak nyokap bokap buat ke Medan. Memang waktu itu karena ada saudara yang nikah sekalian mau sungkeman sama keluarga di Medan dalam rangka mengenalkan suami. Kalo ke Medan mah emang nggak ke mana-mana, tapi kulineran jalan terus. Rasanya gak komplit ke Medan tanpa makan sehari lima kali. Ada banyak banget makanan yang bisa dieksplor. Apalagi tau lah ya lidah orang Medan, rasanya abis makin nasi, ngemilnya sate, lalu cari es krim, terus bawa pulang durian. Duh say bye to timbangan aja, ga tega liatnya:))

Lalu tahun 2016 ditutup dengan tahun baru di Solo, kota kesayangan suami. Kenapa Solo? Karena kulinernya banyak dan Solo adalah tempat paling tepat untuk leyeh-leyeh. Kami berdua menghabiskan pergantian tahun baru 2017 di Solo. Nggak lama setelah liburan di Bali, eh keluarga gue nyusul ke Solo, tujuannya sih "mampir bentar" doang setelah mereka keliling Bali. Jadiii pergantian tahun baru 2017 dihabiskan dengan suami dan keluarga. Dan karena waktu itu masih freelance, kami pulang di saat orang lain udah masuk kerja. Sungguh kemewahan hakiki!

-----
Tahun 2017 ini ada banyak banget perubahan yang "menjungkirbalikkan" hidup beserta persepsi saya terhadap karir, hidup bersama, dan kedewasaan diri. Nanti ditulis lagi yaa serba serbi kehidupan saya di tahun 2017 kalo gak mager.



The secret of change is to focus all of your energy. Not on fighting the old, but on building the new - Socrates

-- hit me on @dinikopi