Sabtu, 21 Agustus 2010

Selamat Datang di Dunia Citra!

No comments    
categories: 
Yap, begitulah saya menyebut dunia ini dan lingkungan saya khususnya. Ups, mungkin bukan cuma di lingkungan saya, karena orang-orang cenderung lebih memikirkan apa yang terlihat di luar bukan apa yang mereka miliki di dalam. Ya, ini dunia dimana jika kau terlihat lebih baik, lebih kaya, lebih dermawan, maka kau lah pemenangnya.


Ada begitu banyak stereotip tentang dunia pencitraan ini, yang mungkin paling dekat dengan saya, mungkin juga dengan kalian, adalah bagaimana pencitraan seorang cowok di mata cewek. Apa sih yang ada di pikiran kalian semua tentang sesosok cowok ideal? Ideal disini adalah ideal untuk dijadikan pasangan. Para perempuan kebanyakan di lingkungan saya selalu menyelipkan kata-kata ganteng, punya BMW putih, badan tegap, kulit putih, pintar, kaya, berbehel, dan sejuta karakteristik lainnya.


Well, gak salah memang, apalagi media di sekitar kita terus menerus memasok otak kita dengan gambaran sosok ideal tersebut, lagian siapa sih yang gamau dapet perfect person? Tapi masalahnya, bagaimana kalo ukuran ideal ini dijadikan sebuah keharusan? Padahal bukankah apa yang kita miliki seharusnya disyukuri sebaik-baiknya. Saya yakin kok diluar sana masih banyak hal-hal yag lebih penting daripada itu.


Oke, mari kita bongkar satu per satu.


Cowok, yang selalu jadi the hero of all, the main actor of the relationship, ya kira-kira seperti itulah yang dipahami oleh masyarakat. Seorang cowok harus lebih hebat daripada ceweknya, karena cowok itu leader-nya cewek. Well, saya ga menyanggah tentang leader leader ini, karena saya juga masih berprinsip memang secara struktural, cowok lah yang nantinya memimpin rumah tangga. Tapi memimpin bukanlah memarjinalkan cewek, atau dalam hal ini memandang sebelah mata potensi si cewek. Dan seorang pemimpin tidaklah harus selalu sempurna. Namanya juga manusia, pasti punya celah ketidaksempurnaan. Nah tapi masyarakat diluar sana “mengharuskan” cowok untuk menjadi sempurna. Sayangnya sempurna ini hanya dipandang secara sempit.


Coba saja tengok, apa sih keinginan dari orang tua kepada calon suami anaknya, yang pertama terucap sangat besar kemungkinannya adalah MAPAN. Menurut mereka, cowok yang mapan adalah cowok yang bertanggung jawab. Apa kabar tuh para cowok-cowok yang belum mapan tapi punya potensi yang luar biasa. Para cowok ini bakal lama dong ngedapetin calon pasangan, hahaa miris. Ada lho cowok yang menunda pacaran bahkan berkeluarga hanya karena dia belum mapan. Well, emangnya gak ada ya cewek yang mau fight together with him? Materi bisa dicari, tapi soulmate? Susah nyarinyaa. Apalagi ukuran finansial ga bisa dijadikan acuan cowok itu bener-bener bertanggung jawab atau gak. Banyak tuh yang tajirnya selangit tapi sama pacar atau istrinya main tinggal aja, ga pernah mau peduli.


Oh iya ada satu lagi yang saya kira sangat dilematis dalam “kepemimpinan” seorang cowok. Biasanya, dari percakapan dan pengamatan saya, cowok terkesan mau “memonopoli” ceweknya. Dalam arti mereka harus memegang kendali penuh atas hidup si cewek. Kalau sekali saja si cewek gak nurut sama cowok, atau gak bertindak sesuai dengan harapan si cowok, bisa jadi si cowok mengamuk hebat karena merasa ga bisa mengendalikan ceweknya sendiri. Dalam beberapa kasus, yang ternyata banyak jumlahnya, perspektif ini rentan menyebabkan Kekerasan Dalam Pacaran, secara verbal maupun fisik. Hiyy, serem ya. Apalagi kalau nanti setelah menikah, apa kabar tuh kebebasan berpendapat si cewek, karena cowok selalu mau menang.


Bukan bukan bukan. Saya menulis ini bukan untuk sok-sokan menjadi feminis (lagipula apa salahnya menjadi feminis?). Saya bukan pula cewek yang menye menye menulis agar derajat perempuan berada di atas laki-laki. Well, it is a BIG NO NO. Lagipula sejak dulu, saya selalu bermimpi untuk menjadi ibu rumah tangga yang berkarir saat berkeluarga. Ya, saya kepengen banget mengabdikan diri untuk keluarga tapi tetap menjalin karir di luar. Jadi bukan cewek yang sangat gila kerja, karena saya mau selalu ada untuk keluarga masa depan saya.


Seorang pemimpin pastilah harus bijaksana. Dia tidak akan melihat siapa yang bicara, tapi apa yang dibicarakannya. Mau aspirasi itu datang dari laki-laki, perempuan, atau pacar bahkan istrinya sendiri, kalau itu benar, apa salahnya dipertimbangkan? Bukan berarti kalau cowok ngedengerin pendapat cewek dan setuju, artinya si cowok tunduk pada cewek. Ya ampun, tuh perspektif sempit banget yak.


So for boys out there, i am talking to you. Maybe there’s a lil bit girls in your circumtances who respect who you really are, but trust me, they are exist.

0 respon:

Posting Komentar

Itu sih kata @dinikopi, menurut kamu?