Senin, 09 Februari 2015

Surat Untuk Jakarta

Gambar dari sini
Halo kota metropolitan yang katanya adalah kesayangan para Presiden. Saat menulis ini, aku sedang tidak berada di Jakarta, melainkan di sebelahmu, Bekasi. Tapi baru beberapa hari meninggalkan Jakarta, kok rasanya rindu ya.

Walau kata orang kamu adalah kota yang bising, tak tertahankan, banjir, rawan, sesak, kota metropolutan katanya. Tapi, walau aku juga kadang sering kesal padamu, rasanya setiap kali aku meninggalkanmu, rasanya rindu. Beneran deh.

Menurutku, kamu itu kota pengabul semua permintaan orang. Rasanya setiap impianku terwujud di Jakarta. Apa yang tidak ada di Jakarta? Di sini adalah kota penuh kesempatan, penuh teman tertawa, dan kota yang mampu menepamu jadi orang yang tak cengeng. Aku percaya, kota impian tak harus berbaik hati setiap saat kepada warganya. Keras tetap diperlukan agar kita jadi semakin kuat, bukan?

Berjalan di trotoar Gatot Subroto, nongkrong di kafe Kemang, mencicipi kuliner di Tebet, atau mengarungi pesisir di Jakarta Utara mungkin jadi alasan mengapa aku betah di sini. Ada banyak opsi kegiatan yang bisa aku lakukan kalau punya uang tentu saja. Di Jakarta selalu ramai, rasanya tak pernah sendiri walau mungkin ita masing-masing akan pulang sendiri dan menempati tempat tidur seorang diri.

Jakarta menawarkan kesempatan kedua, teman tertawa, dan juga cita-cita.

Salah satu kota favoritku memang Solo, namun rasanya Solo dan Jakarta tak bisa dibandingkan begitu saja di dalam hatiku. Seperti mereka berdua punya tempatnya masing-masing. Dan ya, aku juga sudah membuat ruang lain untuk kota menawan yang belum kukunjungi seperti London, New York, Los Angeles, dan San Fransisco. Kalian berdiri dengan keunikannya masing-masing, dan menurutku Jakarta selalu jadi rumah. Walau aku tinggal di kota lain setelah ini, pulang ke Jakarta berarti pulang ke peraduan bagiku.

Kamu memang seringkali menyebalkan tapi itu kan tak terlepas dari kelakukan kami. Kami yang penghuni ini harusnya membuat kamu nyaman dan memperlakukan kamu sebagai rumah. Tapi tamu dari luar pun kadang tega mencorengmu, membuat aku yang merasa nyaman di Jakarta, terusik. Padahal kalau kita semua mau berlaku benar, Jakarta juga bisa jadi menyenangkan lho :(

Di luar keluhan dari banyak orang tentang dirimu, aku ingin kamu tahu bahwa aku berterima kasih telah dilahirkan dan dibesarkan di kota ini. Setidaknya masih ada orang yang mencintaimu dengan tulus walau kamu begitu menyebalkan.

Tertanda,
penghuni pojok Rawamangun  

-- hit me on @dinikopi

0 respon:

Posting Komentar

Itu sih kata @dinikopi, menurut kamu?