Senin, 17 Oktober 2011

Kuliah Semester Tujuh dan Niat Mau Keluar

No comments    
categories: 
Beberapa minggu yang lalu, saya sempat terpikir untuk keluar dari kuliah saya yang ini, dan kerja mengejar passion. Untuk memenuhi tuntutan keluarga akan ijazah S1, saya pikir, saya bisa ambil kuliah sabtu-minggu yang "asal lulus", toh saya sudah jadi orang praktisi.

Ide ini saya endapkan baik-baik. Selalu ada keinginan untuk nekat mewujudkannya. Namun saya tahu, akan ada pihak besar yang kecewa dengan keputusan sepihak ini. Maka saya urungkan, saya mengalah dan menjalani aktivitas selayaknya mahasiswa Kimia UNJ yang lainnya. Tapi ya itu, saya nggak bisa bohong. I cannot live a world with denial.

Di satu kesempatan, saya utarakan niat ini pada keluarga. Bapak langsung bilang "Selesaikan kuliah S1 kimianya dulu! Abis itu, Dini mau kerja dimana, mau ngambil kuliah apa lagi, terserah. Asal selesaikan kuliahnya dulu" ucap beliau dengan nada tegas. Saya langsung mengkeret. Ibu yang seolah-olah mengerti perasaan muak saya pada kimia, dengan sabar bertanya pada saya kenapa saya memutuskan hal itu, seberapa jenuh saya sama kimia, emang mau kerja dimana, dan lain-lain

Ahh saya selalu berkaca-kaca jika berbicara tentang kuliah *hapus air mata*


Ibu bilang, beliau pengen ngeliat satu anaknya ini lulus dari kuliah yang ia pilih sendiri saat lulus SMA. Beliau pengen liat anaknya ada yang "jadi" satu. Jadi sarjana maksudnya. Biar beban moral orangtua bisa lunas sudah. Biar orangtua bangga. Karena dulu perjuangan Bapak dan Ibu tergolong nekat untuk mengirimkan saya ke kuliah. Bermodal nekat, eh alhamdulillah rejeki ada terus ngalir. Jadi sayang banget kalo saya tiba-tiba berhenti kuliah di tahun keempat saya.




Paginya, saat mengantar saya kuliah, Bapak kembali cerita tentang bagaimana susahnya cari duit agar saya bisa kuliah. Suara Bapak yang sayup-sayup berat serta intonasi nada yang memiliki jeda, membuat saya nggak tahan lagi untuk menangis.

Tuh kan, ini aja nangis lagi *brb ambil tisu*


Beliau bilang, ini tahun keempat saya kuliah. Jika target lulus 1,5 tahun saya terpenuhi, kok sayang banget saya mau keluar sekarang. Setelah 3 tahun saya bertahan di Kimia, masa sekarang di ujung perang, malah mau mundur. Sayang banget, gitu katanya. Memang, mengirimkan saya kuliah itu nggak gampang, tapi ini bukan persoalan duit aja. Ini persoalan konsekuensi yang saya pilih, soal menyelesaikan perang, soal bertahan sampai akhir.

Jadi, saya bertahan. Walaupun saya muak, sampai beberapa kali menghindar. Tapi saya harus bertahan.
*langsung nangis kejer*

0 respon:

Posting Komentar

Itu sih kata @dinikopi, menurut kamu?