Senin, 18 Agustus 2014

Melamar Lowongan Social Media a la Dinikopi

8 comments    
categories: 
Sepertinya udah banyak yang ngebahas soal cara melamar pekerjaan yang baik dan benar. Tapi entah penyebaran infonya yang kurang meluas, atau para pelamar yang males, jadi masih ada banyak orang yang nggak memerhatikan cara apply job properly. Makanya saya coba menulis lagi bagaimana cara melamar lowongan social media yang kece. At least menurut saya. :P

Jadi ceritanya, saya sempat menginfokan adanya lowongan social media di Twitter sekitar sebulan yang lalu. Yang tertarik, bisa kirim CV, social media account miliknya, dan rate yang dia tawarkan. Setelah itu, ternyata lowongan yang saya sebar diinfokan kembali oleh @KampusUpdate dan jadilah email saya dibanjiri berbagai pengirim lamaran kerja.

Waktu itu sih, yang apply bervariasi. Ada yang pernah nyemplung di dunia social media sebelumnya, ada yang cuma tahu social media tapi nggak pernah kerja di sana, sampai ke yang buta sama sekali soal pekerjaan di social media. Variasi CV yang masuk juga beragam. Ada yang masih kirim CV a la HRD pabrik, sampe ke CV yang udah diukir-ukir dan ditampilkan dalam format jpeg.

Tapi pada umumnya, para pelamar banyak sekali melakukan kesalahan umum. Baiknya, saya bahas satu-satu ya:

Gambar dari sini
1) Etika Mengirimkan Email
Ini hal pertama yang saya soroti, karena penting banget. Banyak pelamar yang kasih attachment CV tok. Boro-boro ada sapaan, subject email aja biasanya kosong. Alhasil email-email kayak gini nyasar ke spam. Karena dideteksi sebagai spam kali ya sama Gmail.

Hambok itu ya kalo mau ngelamar, diperhatikan dulu etikanya. Biasakan menulis subject email tergantung keperluan. Biasanya di lowongan ada petunjuk "Isi subject dengan 'blabla'". Kalau nggak ada, ya bikin subject sendiri. Kalau saya sih biasanya pakai format "Jenis lowongan kerja - Nama". Contoh "Social Media Officer Application - Wahidini Nur Aflah". Terus, di body email jangan dikosongin juga. Dibikin sapaan gitu. Terangin kamu siapa, dari mana, maksud kamu ngirim email itu apa. Ada beberapa orang yang copy paste surat lamaran dia di body email, itu boleh juga sih. Kan jadi jelas yang baca email :)

Oh iya, kalau kamu semisal mengetahui lowongan dari teman kamu yang berada di satu agency sama HRD, boleh ditulis juga kalimat serupa "Saya mengetahui lowongan ini dari blabla". Jadi, si HRD bisa nanya ke teman kamu, semisal kamu recommended apa nggak.

2) Isi CV
Nggak tahu ya kalau lowongan lain, tapi untuk ini, saya mau kasih tips bikin CV social media yang baik. Sebenernya ada banyak jenis format CV social media. Tapi, biasanya kalau saya memakai format paling simpel dan to the point. Jadi cuma memakan 1-2 halaman Microsoft Word aja, dan nggak bikin orang lain membuang banyak waktu melototin CV-mu.

Kalau di social media, saya biasa pakai CV yang hanya berisi data diri dan pengalaman social media. Pertama ya jabarkan data dirimu, seperti nama lengkap siapa, domisili di mana, nomor handphone berapa, dan semua hal yang berhubungan dengan kontak kamu. Bisa diselipkan juga akun social media personal kamu, kayak username Twitter, URL Facebook, Blog, Linked in, dan lain-lain. Tapi saran saya sih, kalau riwayat pendidikan beserta IPK atau ijazah nggak perlu dilampirkan. Karena pekerjaan social media nggak akan peduli kamu lulusan mana dan nilai kuliahmu berapa. Yang penting sih, kamu bisa pegang akun social media mereka dengan baik apa nggak. Jadi say bye-bye to IPK dan transkrip nilai kamu. Nggak dipake di social media :))

Nah, di pengalaman social media, silakan ditulis kamu pernah pegang akun social media apa aja. Walau itu cuma akun online shop, akun komunitas, akun band kamu sendiri, atau akun event RT/RW, cantumin aja. Kalau perlu, cantumin juga berapa lama kamu pegang akun itu. Dan jika memungkinkan, tulis deskripsi pendek (hanya 1-2 kalimat) soal kerjaan ngadmin kamu di akun tadi ngapain aja. Ini akan sangat berguna bagi si pembaca CV, untuk mempertimbangkan social media skill apa saja yang sudah kamu punya.

Perlu cantumin pengalaman berorganisasi apa nggak? Buat kamu yang minim pengalaman social media, boleh saja dicantumkan. Tapi hanya pengalaman berorganisasi yang sekiranya sesuai dengan social media skill. Misal, kamu pernah jadi seksi publikasi, dokumentasi digital, atau yang sekiranya berhubungan lah. Jangan dicantumkan semua, hanya yang berhubungan aja ya.

3) Bentuk CV
Seperti yang sudah saya jabarkan di atas, CV yang baik biasanya hanya berisi 1-2 halaman saja. Jangan panjang-panjang. Nanti orang yang baca CV kamu, bosen. Emang dia cuma mau menghabiskan waktu seharian baca CV kamu doang? Apalagi kalo di agency, kan ada banyak pelamar lain yang harus dibaca CV-nya. Jadi pastikan saja walau CV-mu pendek, tapi padat dan berkesan. ;)

Penting, tapi sering terlewat. Kirim CV-mu dalam bentuk pdf! Jangan kirim bentuk mentah Microsoft Word. Kesannya nggak rapi, dan informasimu bisa aja dengan mudah dicopy paste orang lain. Kemarin sih, beberapa ada yang kirim CV dalam bentuk jpeg terus dikasih ornamen unik. Ini juga boleh, tapi pastikan sekali lagi, bahwa isinya tetap padat untuk syarat-syarat lowongan social media.

Kalau mau kirim CV dalam bentuk gambar, perhatikan juga sizenya. Jangan sampai 2 MB atau malah sampai 1 GB. Ini sih sama aja kamu merepotkan si pembaca CV. Download CV kamu lama, dan bisa-bisa diskip sama pembaca CV karena terlalu besar sizenya. Saya sih menyarankan cukup di bawah 1 MB saja. Pun, agar email lamaran kamu nggak bounce back, kalau kalau inbox si HRD lagi penuh.

4) Bebenah Akun Personal
Karena ini kamu lagi ngelamar untuk posisi social media, jangan lupa untuk bebenah akun personal kamu. Saya dan beberapa teman dari social media yang lain, akan mengalokasikan waktu menengok social media kamu lho. Untuk tahu apakah kamu kandidat yang baik untuk dihubungi lebih lanjut apa nggak. Jadi pastikan akun personal kamu dimanage dengan baik.

Yang sering bikin kesel adalah, banyak yang ngelamar lowongan social media tapi akun Twitternya digembok. Waduh! Ini niat ngelamar apa nggak sih? :P Biasanya kan si orang yang mau undang kamu interview, kudu liat akun personal kamu untuk observe gaya bahasa ngetweet kamu, apa pake bahasa alay atau bahasa yang rapi. Kan jadi pertimbangan juga, kalo CVnya bagus, bahasa ngetweetnya enak dibaca dan rapi, jadi lebih mengundang untuk interview. Dan, hindari ngeluh di Twitter ya. Akan bawa sentimen negatif ke penerima CV kamu. Dia mungkin aja mikir "Kalo gue kasih nih anak kerjaan, terus kalo ada masalah, jangan-jangan ditweet pula masalahnya". Duh, nggak sopan kan :D

Lainnya adalah, walau akun Twitter nggak digembok, tapi isinya cuma dari Path sama Instagram doang. Duh, gimana caranya tahu cara ngetweet kamu kalau begini. Mungkin tiap orang beda-beda ya. Tapi kalau saya, rada bingung untuk menilainya kalau isi timeline cuma Path sama Instagram doang ( ._.)/|

Nah, kalau kamu punya blog, kan bisa dicantumkan di CV juga. Lihat-lihat juga blog kamu. Terakhir posting tanggal berapa, posting soal apa, blognya rapi apa nggak, dan lain-lain. Si agency biasanya akan bisa observe kamu lebih baik jika kamu mencantumkan blog. Jadi bersyukurlah jika kamu blogger yang masih rajin nulis, hehehe.

5) Lain-Lain
Ada banyak printilan lain yang juga penting untuk diperhatikan. Seperti, username email kamu. Jangan sampai ngelamar dengan email zaman friendster yang usernamenya semisal "aniimoetzznged@yahoo.co.id". Lebih baik bikin email baru yang usernamenya adalah nama lengkap atau nama pena kamu.

Gambar dari sini














Selalu cek rutin emailmu. Sekarang kan teknologi makin mudah dan murah. Jadi, saya menyarankan untuk push email ke gadget kamu, atau dengan rutin cek email setiap hari. Jadi ketika ada respon dari email lowongan, kamu bisa langsung balas segera. No excuse untuk "maaf baru cek email". apalagi kamu akan melamar untuk posisi social media, kalau online aja masih bolong-bolong, gimana saat kerja nanti.

Hindari memberikan email tambahan yang isinya semisal "Halo Mbak, aku kemarin sudah kirim CV. Apa saya sudah memenuhi kriteria untuk lowongan ini? Kapam saya bisa interview?". Kemungkinan besar nggak akan dibalas. Karena, hanya kandidat yang terpilih saja yang akan dihubungi. Kalau CVmu berkesan dan padat, mereka akan menghubungimu kok :)

--

Itu tadi cuma guideline dasar aja. Selebihnya ya kamu bisa membebaskan imajinasi untuk kreasi CV kamu yang lebih unik. Seru kan! ;)

Untuk beberapa orang, informasi kayak gini mungkin saja hanya mau disebar via omongan offline. Saya sih mikir, nggak apa-apa saya tulis hal teknis kayak gini di blog. Karena kan nanti para HRD atau penerima lamaran yang enak kan kalo pelamar udah pada rapi bikin lamaran kerjanya. Nggak usah pelit bagi ilmu lah, karena di tangan pelamar lah, tongkat social media kita akan diberikan. Jadi, saling mendukung aja. Pada akhirnya, hanya pengalaman social media yang bisa membedakan satu pelamar dengan pelamar lain. Juga gaya dan keunikan personal mereka. How cool! :D

Buat kamu yang kepengen jadi anak social media, selamat datang untuk mengeksplorasi banyak hal ya. Good luck in finding social media vacancy! :)

-- hit me on @dinikopi

8 komentar:

  1. hihi, info yang menarik pelajaran tambahan buat CV biar lebih ok. Kalau resume CV saya, terlalu panjang sekitar 4 halaman :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bisa sih, dimampatkan saja jadi 2-3 halaman saja kak. Bisa main di pengemasan format CV agar lebih compact :D

      Hapus
  2. IMHO, Untuk urusan siapa yang nge-handle pelamar, HRD sama yang bukan HRD (Social Media Expert yang bersangkutan) itu beda field. Pertanyaan yang diajukan juga berbeda, ini bisa kesulitan tersendiri buat si pelamar sosmed. Apalagi kalo dia baru pertama banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya ini kudu ditulis yaaaa bahasannya :D

      Hapus
  3. AJAK AKU JADI ANAK SOSMED, KAAAAK

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah kakak ini kan udah hits sekaliihhh~

      Hapus
  4. Wah ilmu baru nih. Baru tahu cara lamar kerja di sosmed. Makasih kak :)

    BalasHapus

Itu sih kata @dinikopi, menurut kamu?