Tampilkan postingan dengan label Fiksitini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksitini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2012

Bukan Balapan

Gambar dari :  http://www.flickr.com/photos/petit_ming/2489123701/sizes/z/

"Eh apa-apan lo?" teriakku melihat Sandra yang nyelonong masuk ke kamar dan mengangkat buku yang sedang ku baca.

"Ngapain lagi lo baca biografi Tessa ampe empat kali sehari? Hidup tuh bukan balapan. Lo nggak perlu merasa mengejar teman sekelas kita yang novelnya selalu best seller ini buat memacu lo nulis," delik Sandra sambil memasukkan biografi tersebut ke dalam tasnya.

Aku tertegun.

Sedetik kemudian Sandra sudah menghilang masuk ke kamarnya.

Sambil menghela napas, aku menjejakkan sepuluh jariku pada keyboard.

-- hit me on @dinikopi

Sabtu, 26 Maret 2011

Fiksi #3

No comments    
categories: 
Pagi. Selalu sama.
"Riaaaa, cowok itu nge-sms gue lagi. gue gatau musti ngapain. gue muak. gue mau keluar segera dari permasalahan gue. Tapi tolong yaa, itu orang bisa gak sih, gak ngegangguin hidup gue sekalii aja, bla bla bla"
aku cuma tersenyum.

Siang. Bosan yang sama.
"Riaaaa, tuh kan mulai lagi. Sekarang nyokapnya yang recet. Ya ampun, udah tahu gue udah putus gitu dari anak laki-laki kesayangannya, masih aja nyuruh gue dateng ke rumah. Ya makan siang lah, ya nemenin anaknya belajar lah, hellooo dikiran gue baby sitter dia, bla bla bla"
aku cuma tersenyum.

Sore. Alur yang sama.
"Riaaaa, kenapa sih gak dia nyari cewek lain aja gitu. Pake kecentilan masih gangguin gue pula. apa dia gak tahu, kalo si Kirana mantan dia ini udah punya cowok super ganteng? Dan sekarang dia minta gue dateng buat bantuin dia ngerjain kerjaan promosi band dia. Ya ampun, dikira gue manager dia apaaa? bla bla bla"
aku cuma tersenyum.

Malam. Awal yang terulang sama.
"Riaaa, kayaknya ada yang ngikutin gue deh"
aku cuma tersenyum

Pagi. Hari ini baru.
"Ria, ayo jenguk Kirana di rumah sakit. Semalem, mulutnya disiram air keras sama orang asing yang naik motor, trus tiba-tiba berhenti di depan dia pas lagi jalan mau pulang"
aku cuma tersenyum.

Siang. Bunga krisan untuk kegembiraanku yang diam diam.
Ku letakkan di samping tempat tidur Kirana yang terbaring lemah dengan mulut penuh balutan perban.
Malam ini akan sangat asyik. tapi aku cuma tersenyum.

Malam. Ayo berpesta.

Jumat, 18 Maret 2011

Fiksi#2

1 comment    
categories: 

Aku mengenalnya. Dia tinggal di rumah paling ujung di gang biru itu. Tapi ia tak pernah pulang sebelum jam 10 malam.

Aku mengenalnya. Dia gadis berambut pendek kusam tanpa aksesoris. Dia si polos, bahkan senyuman pun lupa dikenakannya.

Aku mengenalnya. Dia yang selalu menangis di sudut kamar dengan luka lebam biru. Kadang tertidur dengan mulut tersumbat. Rumahnya hingar bingar, tapi tak ada yang sepilu hatinya.

Aku mengenalnya. Dia perempuan populer dengan rambut berpita oranye. Kerap duduk di taman jika sore menjelang. Memeluk sebuah album foto dan menangis diam-diam.

Aku mengenal mereka. Tapi mereka tak pernah melihatku.

Fiksi#1

No comments    
categories: 

Lihat gerak itu. Aku tak sanggup bernapas lagi. Seakan semua debu di buku ini menyerap seluruh partikel energiku. Tampan. Tolong, sepertinya aku akan pingsan di lorong, tepat di samping rak berlabel “Buku Kesehatan”. Yah, jantungku otomatis tak sehat bila kamu beredar. Kontras. Memalukan.

Kamu berbicara dengan salah satu temanku dengan gerakan sempurna. Seakan menyiratkan pesan kepadaku “ayo, perhatikan aku. I know you want it”. Sial, aku tampak bodoh.

Tak tahan. Aku keluar dari semua lembar-lembar berdebu yang serasa makin menyesakkan. Ralat. Kamu yang bikin aku sesak. Dering ponselku berbunyi. Sambil tersenyum masam, aku mengangkat panggilan itu dan berkata “Gamau tau, aku telat sebulan.”